3 Cara Mengajari Keuangan pada Anak Tanpa Mengontrol Hidup Mereka

Mengajarkan keuangan pada anak sering terasa rumit. Orang tua ingin anak paham soal uang, tapi juga tidak ingin hidup mereka terlalu diatur sejak kecil. Di sinilah banyak orang tua terjebak: niatnya mendidik, tapi caranya berubah jadi kontrol. Padahal, literasi keuangan yang sehat justru tumbuh dari rasa percaya, bukan dari aturan yang terlalu ketat.

Kuncinya bukan membatasi pilihan anak, melainkan membekali mereka cara berpikir yang tepat soal uang.

1. Ajarkan Cara Berpikir, Bukan Daftar Aturan

Anak tidak perlu tahu detail teknis keuangan sejak awal. Mereka tidak harus langsung paham soal anggaran rumit atau target tabungan besar. Yang jauh lebih penting adalah memahami konsep dasar: uang itu terbatas, pilihan selalu punya konsekuensi, dan prioritas itu perlu.

Saat anak mendapat uang saku, biarkan mereka mengelolanya sendiri. Jika uangnya habis lebih cepat, jangan langsung disalahkan. Ajak ngobrol dengan nada netral. Apa yang membuat uangnya cepat habis, dan apa yang ingin mereka lakukan berbeda ke depannya. Dari situ, anak belajar refleksi, bukan rasa takut.

Pendekatan ini membuat anak terbiasa berpikir sebelum mengambil keputusan, tanpa merasa hidupnya diatur.

2. Beri Ruang untuk Salah, Selama Aman

Banyak orang tua ingin anaknya langsung pintar mengelola uang. Padahal, kemampuan finansial terbentuk dari pengalaman, termasuk pengalaman yang kurang menyenangkan. Salah beli, menyesal, atau kehabisan uang sebelum waktunya adalah bagian dari proses belajar.

Peran orang tua bukan mencegah semua kesalahan, tapi memastikan risikonya tetap aman. Biarkan anak belajar di skala kecil, sehingga mereka paham dampaknya tanpa membawa beban besar. Dengan begitu, anak belajar tanggung jawab, bukan sekadar patuh.

Anak yang diberi ruang untuk mencoba justru lebih siap menghadapi keputusan finansial saat dewasa.

3. Tunjukkan Contoh Lewat Keputusan Keluarga

Anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat. Cara orang tua mengelola uang, menyimpan dana, dan menghadapi kondisi darurat akan membentuk cara pandang anak tentang keuangan.

Ketika anak melihat bahwa keluarga punya sistem, tidak panik saat ada kebutuhan mendadak, dan tidak selalu bergantung pada utang, mereka belajar bahwa perencanaan itu memberi rasa aman. Orang tua bisa menjelaskan secara sederhana bahwa sebagian uang keluarga disimpan di tempat yang aman, tetap berkembang, dan bisa diakses saat dibutuhkan. Termasuk konsep seperti tarik deposito tanpa penalti, yang menunjukkan bahwa menyiapkan dana bukan berarti uang jadi terkunci.

Tanpa disadari, anak belajar bahwa uang bisa dikelola dengan tenang, tanpa drama.

Sistem Keuangan yang Mendukung, Bukan Mengikat

Mengajarkan keuangan pada anak akan lebih mudah jika orang tua sendiri punya sistem keuangan yang rapi dan fleksibel. Sistem yang transparan membantu keluarga berdiskusi soal uang tanpa tekanan.

Di tahap ini, bank digital seperti Krom bisa menjadi alat pendukung. Dengan tabungan berbunga 6% per tahun tanpa minimum saldo, serta pemisahan dana berdasarkan tujuan, orang tua bisa mengelola keuangan keluarga dengan lebih terstruktur. Untuk dana yang ingin disimpan lebih optimal, tersedia deposito mulai dari Rp100.000 dengan pilihan tenor fleksibel.

Krom juga menyediakan opsi deposito dengan bunga hingga sekitar 8,25% per tahun, sekaligus fleksibilitas pencairan sesuai kebutuhan. Ini membantu keluarga menyiapkan dana tanpa harus mengorbankan likuiditas.

Sebagai bank yang berizin dan diawasi OJK dan BI serta peserta penjaminan LPS, Krom Bank memberi rasa aman dalam pengelolaan dana keluarga.

Pada akhirnya, mengajarkan keuangan pada anak bukan soal mengontrol hidup mereka, tapi menyiapkan fondasi. Ketika anak tumbuh di lingkungan yang percaya pada proses dan punya sistem yang sehat, mereka belajar bahwa uang adalah alat untuk hidup lebih tenang, bukan sumber tekanan.

Leave a Comment